Rabu, 01 Oktober 2014

Menanamkan sikap mandiri pada anak

Sikap mandiri perlu ditanamkan pada anak sedini mungkin. Bila anak mandiri, hal ini tentunya akan membuat anak merasa lebih percaya diri dan pandai dalam melakukan banyak hal. Hanya saja, satu kendala yang banyak dihadapi orang tua ketika mengajarkan kemandirian pada anak yakni kesabaran. Kebanyakan orang tua kerapkali tidak sabar dalam menghadapi anak untuk mandiri. Terbatasnya kemampuan anak membuat orang tua tanpa sadar kembali membantu anak untuk melakukan segala hal. Pada akhirnya anak menjadi terbiasa untuk ‘dilayani’ dan menjadi bergantung pada orangtuanya.
Pada dasarnya, orangtua bisa mengajarkan kepada anak bagaimana melakukan segala sesuatunya sendiri dan mandiri melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupannya. Tak perlu terburu-buru dengan mengharapkan anak dapat dengan kilat berubah menjadi seorang anak yang mandiri. Sebab segala sesuatunya membutuhkan proses dan perjuangan yang cukup panjang.

Berikut ini ada beberapa cara yang dapat diterapkan oleh para orangtua dalam mendidik anaknya agar menjadi seseorang yang mandiri dimulai dengan melakukan kebiasaan sehari-harinya.

1. Ajarkan Anak Untuk Meletakan Barang Pada Tempatnya
Hal pertama dalam mengajarkan kemandirian pada anak bisa anda lakukan dengan mengajarkan anak untuk menaruh kembali segala sesuatu yang diambilnya untuk dikembalikan pada tempatnya. Misalkan, merapihkan kembali dan meletakan dilemari buku-buku yang telah ia baca. Jangan biarkan anak membiarkan buku-buku tersebut berserakan dan tidak disusun kembali. Nah, untuk itu maka ada baiknya jika anda menyediakan rak buku kecil yang mudah dijangkau anak agar ketika anda memberikan perintah, tidak ada alasan 'rak buku yang sulit digapai' atau alasan lain yang membuat anak menolaknya. Selain itu, bersabarlah di awal-awal anak mungkin akan menolak perintah orang tua, namun jika anda tegas dan bersabar, maka lambat laun anak akan memahaminya.
2. Mintalah Anak Untuk Membiasakan Merapihkan Tempat Tidur Sendiri
Setiap pagi setelah anak bangun pagi, mintalah anak untuk merapihkan kamar tidurnya sendiri, seperti melipat selimut dan merapihkan bantal-bantalnya. Tak perlu berlama-lama cukup 10 menit saja. Hal ini dimaksudkan sebagai latihan agar anak bisa merapihkan kamar tidurnya sendiri. Sebagai langkah awal, orangtua bisa terlebih dahulu memberikan contoh melipat selimut dan pastikan jika anak anda menyimaknya dengan seksama dan lambat laun mintalah mereka merapihkan kamarnya setiap sehabis digunakan.
3. Ajari Anak Untuk Makan Sendiri
Seiring berjalannya usia, ketika anda merasa anak sudah dapat melakukan sesuatu sendiri, maka mintalah mereka melakukannya sendiri dengan tetap dibawah pengawasan orang tua. Tidak terkecuali dengan masalah makan dan minum. Saat anak sudah cukup usia dan sudah mampu makan dan minum sendiri biarkan mereka mencoba melakukannya sendiri. Setelah anda merasa mereka bisa melakukannya sendiri dengan baik, maka biarkan mereka makan dan minum dengan sendirinya. Hal ini akan mengajarkan anak untuk mandiri dalam makan dan minum.
4. Mempersiapkan Diri Sebelum Pergi ke Sekolah
Biasanya para orangtua akan merasa tidak tega melihat anaknya bangun lebih pagi dan menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Namun, tahukah anda jika anda terus membiarkan si kecil bangun dengan mudah dan langsung dihadapkan pada sarapan tanpa ia mengetahui persiapannya saat pergi ke sekolah, maka suatu hari nanti ketika mereka jauh dari anda. Hal ini akan membuat anak menjadi semakin menderita, sebab mereka sudah tergantung dengan orangtuanya. Nah, untuk itulah libatkan anak ketika mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah, seperti mengenakan sendiri sepatu dan bajunya yang sudah anda persiapkan. Dengan begini anak akan tahu semua persiapan paginya sebelum ia pergi ke sekolah.
Nah, itulah dia beberapa cara yang bisa anda terapkan kepada anak untuk melatih anak menjadi lebih mandiri. Selain melatih kemandiriannya, cara-cara diatas dapat pula membangun dan melatih kedisiplinan serta rasa tanggung jawab anak

Gangguan Psikologis pada anak

Disini ada beberapa jenis gangguan psikis yang mungkin dialami oleh anak anda.

1.Mental Retardation
Mental retardation adalah suatu jenis gangguan psikologis anak yang ditandai dengan ketidakmampaun anak untuk mengurus diri mereka sendiri, kesulitan berkomunikasi dan ketidakmampuan membedakan hal yang berbahaya dan tidak berbahaya. Kondisi mental retardation dapat dikenali sebelum anak berusia 17 tahun. Umumnya gejala awalnya dapat dilihat dari tingkat IQ anak yang rendah yang mana biasanya berada dibawang angka IQ 70. Anak-anak yang mengindap gangguan psikologis mental retardation tidak mampu untuk mandi sendiri, makan sendiri, sulit berbicara dan selalu membutuhkan pendamping pada setiap aktivitas yang dilakukannya.
2.    Autisme
Autisme merupakan gangguan perkembangan yang terjadi pada anak yang mengalami kondisi menutup diri. Gangguan seperti ini mengakibatkan anak mengalami keterbatasan dari segi komunikasi, perilaku dan interaksi sosial. Sampai saat ini penyebab dari munculnya sindrom autisme belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli mengungkapkan kondisi ini disebabkan oleh muliti factiroal, sementara beberapa diantaranya juga ada yang menyebutkan sebagai gangguan biokimia. Gejala autisme dapat dikenali sejak anak masih bayi seperti misalkan dikenali lewat fokus mata hanya pada satu benda, respon yang sangat minim terhadap impuls dan tidak bereaksi pada rangsangan suara. Sementara pada anak yang sudah lebih besar, biasanya dapat dikenali dengan kesulitan fokus pada satu hal, yakni ketika anak tidak merespon ketika dipanggil, kesulitan berkomunikasi serta melakukan sesuatu secara berulang-ulang.
3.    Gangguan Kecemasan
Gangguan kecemasan adalah salah satu gangguan psikologis yang paling umum yang dapat mempengaruhi anak-anak. Gejala utama dari gangguan psikologis ini adalah timbulnya rasa cemas, ketakutan dan kegelisahan yang berlebihan pada anak. Ada berbagai jenis gangguan kecemasan seperti ketakutan yang tidak berasalan atau tanpa didukung dengan situasi yang mana hal ini disebut dengan fobia. Gangguan kecemasan umum yang cenderung membuat anak-anak merasa khawatir, gelisah berlebihan mengenai hal yang tidak realistis, sering panik biasanya disebabkan karena trauma yang pernah dialami oleh si anak.
4.    Asperger Syndrom
sindrom asperger merupakan kelainan perilaku pada anak yang membuat anak menarik diri dari keramaian, menjadi penyendiri, tidak banyak berbicara dan tidak suka bermain. Umumnya anak-anak yang mengidap sindrom ini akan lebih senang berbicara dengan orang dewasa dengan topik yang tak biasa. Selain itu, anak-anak dengan sindrom ini adapula yang menunjukan keinginana untuk memiliki banyak teman, hanya saja mereka memiliki kecenderungan yang mudah bosan sehingga menjauhi sendiri teman-teman yang telah mereka miliki. Hal inilah yang membuat anak-anak dengan sindrom ini sulit menemukan teman bermain. Anak yang mengalami sindrom asperger dapat dikenali dari sifat kurang simpati terhadap orang lain, tidak sensitif dan tidak suka bergaul dan bermain.
Demikian beberapa jenis gangguan psikologis yang mungkin terjadi pada anak. Dengan mengetahui beberapa jenis gangguan psikologis diatas, diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan anda dan jika beberapa gejala dari gangguan psikologis dikenali pada anak, anda bisa mengambil tindakan dengan membawa anak terapi untuk mengatasinya.

Perkembangan bayi umur 1 tahun

Bayi anda sudah berusia 12 bulan atau 1 tahun dan anda biasanya akan merayakannya hari ulang tahunnya yang pertama ini. Banyak hal yang membuat anda sangat bangga menjadi seorang ibu. Anda menemukan hal-hal ajaib yang sungguh membuat anda takjub dengan bayi anda. Anda tidak bileh berhenti mengamati bayi anda selama anda masih bisa mengamati anak anda.Perkembangan bayi 12 bulan juga sudah sangat banyak. Ibu akan menemukan berbagai hal baru yang dilakukan oleh bayinya. Pada usia 12 bulan, bayi telah bisa mengenal benda yang dia lihat ditempat lain. Misalnya dia punya benda itu dirumah, maka dia akan mudah mengenal benda serupa ketika bayi anda berjalan-jalan dengan anda dipusat perbelanjaan. Usia 12 bulan bisa dikatakan sebagai akhir tahapan sensor motorik pada bayi anda. Bayi anda akan mulai terampil bukan hanya dari berbagai gerakan yang dilakukan saja, tetapi dari segi bahasa dan kosa kata yang akan dikatakan oleh bayi. Bayi juga sangat lincah dalam menerima informasi dari ibunya dan dia akan segera menirukannya.
Kosakata pada bayi usia 12 bulan memang masih terbatas. Bayi biasanya belum bisa mengungkapkan emosi yang dia rasakan dan bayi dalam perkembangan bayi 12 bulan belum bisa juga memberitahukan kepada orang terdekatnya apa yang sebenarnya dia inginkan. Dalam melatih anak anda, ibu juga harus mempraktekkannya. Bayi akan melihat apa yang dilakukan oleh ibunya. Jika ibu hanya melatih tanpa melakukan, maka bayi tidak akan merasa perlu melakukan yang seperti ibunya lakukan. Dalam berkomunikasi dan untuk melatih bayi bicara, ibu bisa menggunakan kata-kata yang mudah diingat oleh bayi. Selain lebih singkat dan mudah diingat, anak belum bisa mengucapkan kata yang rumit sehingga dengan mengatakan kata-kata mudah, bayi lebih percaya diri untuk berkomunikasi dengan orang tua atau teman-teman seumurnya.
Perkembangan bayi 12 bulan, bayi juga sudah bisa mulai memutuskan suatu hal. Bayi sudah bisa memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Ibu harus mengerti dan mendorong bayi agar mau dan bisa memutuskan yang dia inginkan.  Pada usia ini, ibu juga bisa melatih bayi agar mulai menggunakan kedua tangannya untuk menggunakan baju atau jepit rambut yang dia inginkan. Dengan begitu, ibu akan mudah melatih kemandirian bayi anda.

Tips

Pada usia 12 bulan, bayi sudah akan aktif mengatakan berbagai kata. Jagalah agar bayi anda bisa tumbuh ditempat dengan situasi yang mendukung perkembangan bayi yang lebih baik. Jangan menggunakan kata kasar atau jorok didepan bayi anda karena bayi akan cenderung meniru. Jangan melakukab perbuatan yang tidak baik juga seperti memukul atau menjewer kakak bayi karena ini akan membuat bayi merasa ketakutan atau menirukan hal yang sama.

Penyebab Anak rewel

Melihat anak rewel memang bukan hal yang baru. Setiap anak pasti pernah atau bahkan sering rewel. Namun terkadang banyak orang tua yang kewalahan untuk mengatasinya, disini ada sedikit beberapa penyebab dan cara mengatasi anak yang sedang rewel 

 
1. KONDISI FISIK YANG TAK NYAMAN

Anak yang mengantuk, kepanasan, kedinginan, kelaparan, kehausan umumnya menjadi rewel.

Sikap Orang Tua:

Cari tahu penyebab rewelnya dan selesaikan permasalahan itu. Umumnya bila disebabkan masalah fisik, anak akan segera kembali ceria jika dirinya sudah kembali nyaman.


2. MENCARI PERHATIAN

Kadang si batita rewel sekadar untuk mencari perhatian. Ini kerap terjadi karena umumnya orang tua banyak memberikan perhatian kepadanya saat sedang rewel saja. Sementara saat sedang bersikap manis si kecil kurang mendapat perhatian. Akibatnya, si batita telanjur ?belajar? bahwa keinginannya akan dipenuhi dengan cara merengek-rengek sambil menangis. Bahkan ada pula yang sampai tantrum.

Sikap Orang Tua:

* Jangan berikan perhatian khusus pada saat si batita rewel. Bila perlu jangan penuhi permintaannya sehingga ia menyadari bahwa cara yang telah dilakukan tidaklah benar. Tindakan ini dapat sekaligus untuk mengajari si batita mengendalikan diri.

* Ajak si batita berkomunikasi, sampaikan bahwa cara yang dilakukan adalah salah. Misal, ?Kalau ngomong-nya sambil menangis, Bunda tidak tahu apa yang kamu inginkan. Coba tenang dulu, ngomong yang baik.?

* Biasakan untuk memberi perhatiaan kepada anak setiap saat, terutama saat ia bersikap manis. Bentuk perhatian itu cukup berupa kalimat seperti, ?Bunda bangga, lo, karena Tia tidak sulit diajak mandi.?


3. INGIN MENUNJUKKAN KEKUATANNYA

Batita memiliki kecenderungan menolak. Ia sesungguhnya hanya mau menunjukkan bahwa dirinya pun punya keinginan atau pendapat. Jadi tak perlu kaget bila dalam banyak hal si batita kerap menolak dan lebih menyenangi pilihannya sendiri. Bila keinginannya tidak terpenuhi, hal ini menyebabkannya menjadi rewel. Apalagi banyak orang tua yang malah bersikap memaksakan kehendak karena merasa dirinyalah yang paling berhak terhadap anaknya. Semakin menjadilah kerewelan si batita.

Sikap Orang Tua:

Jangan paksakan keinginan Anda. Cobalah untuk berstrategi dengan cara melontarkan pilihan semu, yaitu pilihan-pilihan yang tetap memiliki tujuan akhir yang sama. Melalui cara ini, anak diharapkan dapat sekaligus belajar untuk mengambil keputusan sehingga dapat memupuk rasa percaya dirinya pula. Contoh, bila ajakan mandi kita ditolaknya, cobalah lontarkan tawaran, ?Adik mau mandi dengan air hangat atau air dingin?? Melalui tawaran ini, tujuan mandi tetap dapat tercapai dan anak pun bisa mengambil keputusan dari dua pilihan itu sehingga tak terkesan dipaksa.


4. TERLUKA PERASAANNYA

Biasanya ini terjadi bila si batita habis dimarahi. Buntutnya ia akan rewel dan kerap tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, seperti, ?Aku benci sama Mama.? Ungkapan itu sesungguhnya hanya sekadar untuk menunjukkan rasa sedihnya. Namun, mendengar ucapan itu banyak orang tua yang terpancing dan balik memarahi.

Sikap Orang Tua:

Jangan terpancing. Rangkullah si batita dan ucapkan kalimat yang menenangkan seperti, ?Mama sayang banget, lo, sama Adik. Nangis-nya sudah ya nanti capek.? Dengan rangkulan dan kalimat yang menenangkan akan membuat si batita merasa nyaman. Perasaan nyaman dan terlindungi, niscaya tak akan membuat si batita jadi rewel berkepanjangan.


5. KETIDAKMAMPUAN MENGERJAKAN SESUATU

Orang tua tanpa sadar sering menuntut anaknya untuk mampu melakukan sesuatu dengan ukuran orang dewasa. Dalam hal makan, misalnya, tanpa sadar terkadang orang tua meminta kepada si batita untuk bisa makan dengan cepat dan rapi, padahal si batita belum mampu melakukannya. Buntutnya, untuk menutupi ketidakmampuan itu, si batita malah jadi rewel.

Sikap Orang Tua:

Jangan paksa anak melakukan sesuatu yang memang belum mampu dilakukannya. Untuk memacu semangatnya sekaligus membangun rasa percaya diri, berikan penghargaan walaupun kemampuan yang dicapai sangatlah kecil. Contoh, ?Wah, Adek senang makan sayur ya? sayurnya tinggal sedikit tuh.? Intinya, penghargaan itu diberikan hanya pada saat anak mampu melakukan sesuatu yang positif.




5 SIKAP POSITIF ORANG TUA MENCEGAH KEREWELAN




1. Berpikir positif

Orang tua hendaknya tak mudah putus asa bila melihat si batita misalnya tergolong bertemperamen slow to warm up, yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menyesuaikan diri. Tumbuhkan saja pikiran positif bahwa saya dapat membentuknya menjadi anak yang baik. Dengan keyakinan ini, interaksi anak-orang tua yang terbentuk niscaya akan baik.


2. Tidak mengalah pada kerewelan anak

Cara orang tua berinteraksi dengan si batita dapat memengaruhi sikapnya. Misal, si batita yang memiliki kecenderungan rewel dapat jadi bertambah rewel saat memahami rewel dapat dijadikan sebagai senjata bagi dirinya. Apalagi bila orang tua selalu memenuhi atau mengalah saat ia bersikap rewel. Namun bila orang tua bersikap tidak mudah lunak dengan sikap rewelnya yang dijadikan sebagai senjata, maka bisa jadi ia tidak menjadi rewel karena ia sudah mengalami bahwa cara itu bukanlah cara efektif untuk meminta. Jadi interaksi yang benar bakal memengaruhi sikap anak.


3. Tidak memberikan label

Pemberian label pada anak malah akan menyebabkannya menjadi tak percaya diri. Bahkan bisa jadi lambat laun ia menjadi anak seperti yang dilabelkan selama ini. Umpama, diberi label si rewel dan si cengeng. Bisa jadi anak memilih bersikap rewel sepanjang waktu.


4. Fokus pada sikap anak

Untuk membangun sikap positif anak, tangkap-basahlah sikap manisnya dan berikan penghargaan. Jangan hanya memberikan perhatian saat anak sedang bersikap buruk. Contoh, ?Wah, hari ini kamu oke, deh.? Sambil menunjukkan satu jempol ke arahnya. Ini dapat membangun rasa percaya diri anak.


5. Tidak membandingkan-bandingkan

Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan. Tugas orang tua adalah memaksimalkan kelebihan setiap anak dan meminimalkan kekurangannya. Hal itu dapat menumbuhkan rasa percaya si batita bahwa dirinya memang memiliki keistimewaan.

Selasa, 30 September 2014

Cara Mengatasi Anak yang susah makan



Anak susah makan merupakan permasalahan yang sering dikeluhkan orang tua, terutama para ibu. Berbagai cara seolah tidak berhasil dilakukan untuk mengatasi anak yang sulit makan. Bahkan tak jarang para ibu menjadi tertekan dan stress dalam menghadapi buah hatinya.Setiap ibu selalu diliputi kekhawatiran soal kecukupan gizi buah hatinya. Belum lagi jika anak susah makan atau pilih-pilih makanan.
Ketika si kecil berusia 6 bulan, saatnya mulai memberikan makanan padat pendamping ASI. Saat inilah Anda mesti lebih cermat memperhatikan pola makannya. Mulai dari memberinya bubur susu, sari buah, lalu bertahap ke tekstur makanan yang lebih padat seperti nasi tim, dan seterusnya. Sayangnya proses ini tak selalu berjalan mulus, ada beberapa penyebab yg mambuat si kecil susah makan. Biasanya ini terjadi ketika usianya memasuki tahun pertama. Masalah tersebut biasanya berupa menolak makanan, tidak suka sayur, hanya mau makan yang itu-itu saja (picky eater), atau mengemut makanannya berlama-lama. Kondisi ini sudah barang tentu membuat ibu khawatir akan kecukupan gizi si kecil, mengingat mereka masih dalam masa tumbuh kembang.
FaKtor penyebab seorang anak susah makan dikarenakan faktor fisik dan faktor psikis. Faktor fisik meliputi terdapatnya gangguan di organ pencernaan maupun terdapatnya infeksi dalam tubuh anak. Sedangkan faktor psikis meliputi gangguan psikologis pada anak, seperti kondisi rumah tangga yang bermasalah, suasana makan yang kurang menyenangkan, tidak pernah makan bersama orangtua, maupun anak dipaksa memakan makanan yang tidak disukai.
Bagaimana mengatasinya?
Mungkin ada beberapa catatan penting yang terlewatkan oleh Anda saat memberi makan si kecil.Tips berikut mungkin dapat membantu Anda;
1. Coba sajikan makanan dalam porsi kecil.
Ingat, lambung si kecil belum mampu menampung makanan terlalu banyak, jadi berikan ia makanan sedikit demi sedikit.
2. Variasi makanan.
Cobalah buat beberapa pilihan menu makanan, lalu biarkan buah hati Anda memilih makanan yang ia sukai. Biasanya anak lebih suka dengan makanan pilihannya.
3. Sajikan dengan menarik
Setelah menyajikan banyak pilihan, sajikan dengan tampilan menarik. Misalnya, mencetak nasi goreng dalam cetakan teddy bear atau bebek kecil. Contoh: Makanan Unik
4. Jadikan saat makan menyenangkan
Hindari mengancam, menghukum, atau menakut-nakuti anak agar ia makan lebih banyak. Ini akan membuatnya merasa bahwa saat makan merupakan saat yang tidak menyenangkan. Dan bukan tak mungkin menimbulkan trauma psikologis baginya.
5. Makan teratur
Jadwalkan waktu makan dengan teratur, agar si kecil terbiasa dengan waktu makannya. Sama halnya dengan waktu tidur, mandi dan sebagainya.
6. Beri cemilan sehat
Setelah bisa berjalan, si kecil gemar bereksplorasi dengan lingkungannya. Apalagi ketika memasuki usia 2 tahun, aktivitasnya semakin banyak saja. Ini mungkin membuatnya sulit untuk duduk manis dan makan dengan tenang. Untuk menyiasatinya, berikan ia cemilan sehat dalam porsi kecil namun beragam. Misalnya saja bola-bola kentang isi wortel dan daging cincang, sus mini isi fla coklat, donat tabor keju, dan sebagainya.
7. Hindarkan gaya memaksa dan mengancam dalam membujuk anak. Selama waktu makan, minimalkan gangguan, misalnya matikan televisi dan jauhkan buku atau mainan dari meja makan.
8. Libatkanlah anak anda untuk menyiapkan makanan.
Misalnya dengan meminta pertolongannya untuk mengambilkan buah atau sayur di swalayan maupun membantu menyiapkan meja makan. Selain itu, anak anda memerlukan contoh dari orang tuanya. Bila anda mengkonsumsi makanan sehat, maka anak akan mencontoh pola makan anda sebagai orang tua.
9. Hindari memberi iming-iming makanan penutup sebagai hadiah.
Hal ini dapat menyiratkan bahwa makanan penutup merupakan makanan yang paling enak dan baik untuk anak. Selain itu, dapat meningkatkan keinginan mengkonsumsi makanan manis bagi anak. Anda dapat memberikan makanan penutup selama 2 hari dalam seminggu, sedangkan pada pekan berikutnya tidak anda berikan. Buah, yogurt atau makanan sehat lain dapat anda ganti sebagai makanan penutup.
10. Batasi pemberian minuman di sela-sela waktu makan.
Minuman rendah lemak maupun jus buah segar memang penting untuk anak, namun bila ananda terlalu banyak minum, tidak akan ada tempat yang cukup untuk makanan maupun kudapan sehat yang bisa masuk ke perut anak.

Perbedaan karakter anak sulung, tengah dan bungsu

A. Anak Tunggal
Ciri khas anak tunggal suka menggantungkan cita-cita yang tinggi dan sangat idealistik. Anak Tunggal memiliki kadar idealistik yang super tinggi (tertinggi diantara anak yang lain dalam hal jodoh, dan pekerjaan). Anak tunggal juga sangat suka bepergian, berekreasi ataupun berpetualang. Anak Tunggal memiliki kesamaan dengan anak pertama yakni tidak suka berbuat ulah (cinta akan perdamaian). Kecenderungan si Anak Tunggal lebih suka kepada lawan jenis yang berwajah dan bersikap dewasa.
Anak tunggal menurut penelitian Psikolog kurang cocok dengan anak tengah, akan banyak konflik terjadi karena banyak perbedaan. Menurut pengamatan dan penelitian saya, anak tunggal kurang suka dengan tipe yang pecicilan (biasanya bungsu) dia lebih suka yang bersikap dewasa dan serius seperti anak Pertama (umumnya).
B. Anak Sulung
Sifat dasar anak pertama adalah bijaksana, bersikap lebih dewasa dan memiliki paling banyak ilmu namun kadang jarang dikeluarkan/diucapkan. Anak Sulung berpikir lebih kritis (umumnya memiliki daya analisa yang paling kuat). Anak pertama banyak ilmunya di dalam dirinya namun tidak banyak dikeluarkan oleh ucapan kecuali oleh teman terdekatnya saja. Sifat baik anak Sulung yang lain adalah jarang memukul atau tidak usil karena sifatnya agak serius. Sifat buruk anak Sulung adalah paling perhitungan, paling pelit, dan sangat pemilih dalam urusan jodoh dari pada anak-anak yang lain (pada umumnya), dan biasanya sangat mengharapkan sekali pasangan yang ganteng atau yang cantik, ataupun mapan dan berduit.
C. Anak Tengah
Anak Tengah memiliki sifat dasar lebih bebas, Pemberani, Percaya diri tinggi dan lebih mudah berekspresi dalam perkataan dan tindakan (Mudah berkomentar, dan sangat luwes dalam gerakan). Sifat baik anak Tengah adalah sangat ramah dan mudah bergaul atau menyesuaikan diri dengan orang lain sehingga dengan mudah disukai banyak orang, disamping itu memiliki jiwa seni lebih tinggi daripada anak yang lain (Seniman). Sifat kurang baiknya adalah mudah emosi, gampang tersinggung, suka membuat ulah/gara-gara namun mudah merasa iba, ringan tangan, mudah untuk bentrok/cekcok dengan orang lain karena anak tengah umumnya gak mau kalah (pengen menang) Anak Tengah paling pemberani diantara yang lain (Bernyali besar). Biasanya Anak Tengah paling mudah berkomunikasi atau akrab juga dengan anak tengah tapi juga gampang konflik juga dengan anak tengah itu sendiri.
D. Anak Bungsu
Anak bungsu memiliki sifat Fun (menyenangkan) dan manja (kolokan) dikarenakan sudah mempunyai kakak-kakak diatasnya jadi merasa menggantungkan dengan kakaknya atau orang tuanya (pada umumnya tapi tidak mesti). Anak Bungsu kurang cocok untuk jadi seorang pemimpin karena kurang tegas (tidak semuanya). Kebaikan anak Bungsu ini umumnya berbadan paling sehat, jarang mengalami sakit apalagi yang berat-berat, dan biasanya paling awet muda diantara anak-anak yang lain (baby face). Sifat buruk dari anak Bungsu adalah ini paling gampang dalam mengeluarkan duit (boros) dan kurang suka menabung karena kurang suka perhitungan.

Mengetahui Karakter Anak Sulung



Lahir pertama dan menjadi limpahan perhatian dan kasih sayang, Si Sulung juga ibarat “proyek experimental” ayah-bunda. Maklum, anak pertama dan  orangtua masih miskin pengalaman.
 
Dalam pengasuhan anak yang jumlahnya lebih dari satu,  tidak ada orangtua yang konsisten memperlakukan anaknya persis sama.  Secara instink mereka cenderung membedakan anak berdasarkan urutan kelahiran. Misalnya, orangtua memberi tanggung jawab  lebih besar kepada anak sulung karena dianggap lebih tua, lebih kuat, dan lebih berpengalaman. Mereka memberi lebih banyak kelonggaran kepada anak bungsu karena dianggap paling muda, paling lemah, karena itu harus dilindungi.

Psikolog Dr Kevin Leman  dalam bukunya “The Birth Order Book; Why You Are The Way You Are,” membagi dua tipe anak sulung. Meski sama-sama suka  mengontrol dan mengendalikan, sulung tipe pertama melakukannya dengan gaya mengasuh yang lemah lembut. Sedangkan sulung tipe kedua  adalah penggerak yang agresif, cenderung memaksa orang-orang di sekitarnya.

Karakteristik Si Sulung
  • Pemimpin alamiah, kebanyakan berbakat menjadi politisi, direktur , atau juru bicara perusahaan.
  • Bercita-cita tinggi, bisa menyusun target dan mencapainya.
  • Suka pilih-pilih
  • Akurat, menaruh perhatian pada detail dan ingin selalu sempurna saat bekerja.
  • Terorganisir dan kompeten
  • Tepat waktu
  • Ingin selalu merasa terkendali, kurang suka kejutan.
  • Suasana hati gampang berubah
  • Kurang sensitif.
  • Sulit menerima kata ‘tidak”
  • Memiliki kemampuan mengintimidasi
  • Kadang-kadang terkesan serba tahu.
  • Cenderung bossy, dan merasa dirinya selalu benar.
  • Bertanggung jawab  dan menjaga peraturan
  • Jika merasa ditolak, bentuk protesnya adalah melanggar peraturan
  • Selalu berusaha menyenangkan orang lain, khususnya ayah-ibu. Sebisanya tidak akan berkata “tidak” atau tidak setuju karena tidak mau  mencari gara-gara.
  • Kurang bisa mendelegasikan tugas karena ingin yakin segalanya dikerjakan dengan benar.
Idealnya, pola asuh terhadap anak sulung, tengah dan bungsu  tidak dibeda-bedakan. Orangtua harus memberi limpahan perhatian dan  kasih sayang yang sama porsinya  kepada mereka.  Begitu juga peluang, harapan dan ambisi,  tidak boleh ditujukan kepada anak semata-mata berdasarkan urutan lahirnya, melainkan harus melihat potensi, bakat dan minat masing-masing anak